Yayasan Pendidikan Bustanul Ulum Sei Bahar III Ma. Jambi
Senin, 03 April 2017
Rabu, 28 Januari 2015
Sabtu, 17 Januari 2015
~◆♥ SEJARAH WALI SONGO ♥◆~
Bisa dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peran khilafah. Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin to mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?
Dalam *kitab Kanzul Hum yang ditulis oleh Ibnu Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turkidi Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa* .
Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina .
Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem) .
Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah .
Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan .
Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut .
PERIODE DAKWAH WALI SONGO
Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa .
Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati) .
Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit .
Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu .
Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka .
Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung .
Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki .
Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah .
Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah .
Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922)
Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh
Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki
Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki
Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani
Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah
Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki
#KESIMPULAN
Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)
Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.
- Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.
- Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.
- Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.
- Juga Syaikh Ja'far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.
- Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.
(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).
Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.
Sultan Muhammad I itu membentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana 'Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan dan penghormatan akan hari lahirnya beliau. Peringatan ini jatuh pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal, bulan ketiga dalam kalender Islam. Yang pertama kali menyelenggarakan peringatan ini adalah kaum Fatimid pada abad ke-10, dan baru pada masa Ottoman Turki tahun 1588 lah peringatan hari raya ini dijadikan hari libur resmi. Kata “maulid” sendiri dapat dibaca mawlid, mevlid, mevlit, mulud, atau milad yang berarti hari ulang tahun. Selain untuk Nabi Muhammad SAW, di beberapa negara di belahan dunia seperti Mesir contohnya, penggunaan kata maulid biasa digunakan untuk penyelenggaraan hari ulang tahun dari figur-figur agama yang lainnya seperti para Sufi.
Awal Mula Diselenggarakannya Maulid Nabi Muhammad SAW
Penyelenggaraan maulid Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah terjadi jika Nabi Muhammad tidak dilahirkan dalam keluarga dari Bani Hashim, salah satu keluarga yang cukup terkemuka di Mekkah. Nabi Muhammad SAW lahir pada bulan Rabiul Awal di tahun 570, bersamaan dengan Tahun Gajah. Diberi nama tahun gajah karena pada masa itu pasukan dari raja Abraha gagal menghancurkan Mekkah dengan pasukan gajahnya. Penganut Muslim Sunni percaya bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah tanggal 12, sementara penganut Muslim Syiah percaya Nabi Muhammad lahir pada fajar tanggal 17 Rabiul Awal. Ketika lahir, ayah dari Nabi Muhammad SAW yang bernama Abdullah bin Abdul Muttalib telah meninggal dunia sehingga meninggalkannya hanya bersama ibunya yang bernama Aminah binti Wahab, adik dari pemimpin kelompok Bani Zuhrah di masa itu. Nama yang diberikan Aminah kepada Nabi Muhammad SAW juga bukan nama yang familiar, dimana nama tersebut ia pilih setelah ia mendapat penerawangan ketika sedang mengandung.
Penyelenggaraan maulid Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah terjadi jika Nabi Muhammad tidak dilahirkan dalam keluarga dari Bani Hashim, salah satu keluarga yang cukup terkemuka di Mekkah. Nabi Muhammad SAW lahir pada bulan Rabiul Awal di tahun 570, bersamaan dengan Tahun Gajah. Diberi nama tahun gajah karena pada masa itu pasukan dari raja Abraha gagal menghancurkan Mekkah dengan pasukan gajahnya. Penganut Muslim Sunni percaya bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah tanggal 12, sementara penganut Muslim Syiah percaya Nabi Muhammad lahir pada fajar tanggal 17 Rabiul Awal. Ketika lahir, ayah dari Nabi Muhammad SAW yang bernama Abdullah bin Abdul Muttalib telah meninggal dunia sehingga meninggalkannya hanya bersama ibunya yang bernama Aminah binti Wahab, adik dari pemimpin kelompok Bani Zuhrah di masa itu. Nama yang diberikan Aminah kepada Nabi Muhammad SAW juga bukan nama yang familiar, dimana nama tersebut ia pilih setelah ia mendapat penerawangan ketika sedang mengandung.
Dalam catatan sejarah, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang pertama kali tercatat diklaim berasal dari abad ke-12 dan kemungkinan besar berasal dari Persia. Meski begitu, penyebutan pertama tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam catatan sejarah baru ada melalui tulisan-tulisan dari al-Din bin al-Ma’mun yang wafat pada tahun 1192 dan merupakan anak dari Mawa’iz al I’tibar fi Khitat Misr wal Amsar, seorang Grand Vizier Khalifah Fatimid, al-Amir yang berkuasa pada tahun 1101 hingga 1130. “Purwarupa” sejarah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW sudah ada melalui peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW sebagai hari suci yang dilakukan secara pribadi pada akhir abad ke-12. Dulunya, peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah acara yang tidak terlalu populer hingga akhir abad ke-12 dimana rumah yang digunakan untuk acara Maulid ketangan banyak orang. Yang memperkenalkan penyelenggaraan ulang tahun Nabi Muhammad SAW di kota Sabta ini adalah Abu ‘I’Abbas al-Azafi sebagai suatu cara untuk menyerang balik festival-festival Kristen dan demi menguatkan identitas Muslim.
Sejarah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini juga ditulis dalam Khitat milik al-Maqrizi, dimana dalam catatan tersebut, kekhalifahan Fatimid sering melakukan berbagai macam festival dan perayaan yang di dalamnya ada perayaan tahun baru, hari Ashura, ulang tahun nabi Muhammad SAW, ulang tahun Ali, ulang tahun al-Hasan, ulang tahun al-Husayn, ulang tahun Fatimah, ulang tahun Khalifah masa itu, hari pertama dan kelima belas Rajah, hari pertama dan kelima belas Sya’ban, festival Ramadhan, awal, pertengahan, dan akhir Ramadhan, malah kekhataman, hari Idul Fitri, hari Idul Kurban, dan beberapa hari lainnya. Dalam praktek awal sejarah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, perayaannya melibatkan beberapa elemen Sufi di dalamnya seperti kurban hewan, prosesi obor, pembacaan doa bersama, dan santapan besar. Perayaan maulid nabi ini biasanya dilakukan siang hari, kontras dengan peringatannya sekarang yang biasa dilakukan pada malam hari.
Praktek dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW biasanya dilaksanakan oleh penganut paham Sunni dan Syiah, sementara para penganut paham Wahabi menolak penyelenggaran hal ini. Di dunia Muslim, mayoritas ilmuwan Islam sendiri menyetujui adanya Maulid yang mereka nilai boleh dilakukan dalam tradisi Islam, dan melihatnya sebagai sebuah acara yang positif.
Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW biasanya dilaksanakan oleh penganut paham Sunni dan Syiah, sementara para penganut paham Wahabi menolak penyelenggaran hal ini. Di dunia Muslim, mayoritas ilmuwan Islam sendiri menyetujui adanya Maulid yang mereka nilai boleh dilakukan dalam tradisi Islam, dan melihatnya sebagai sebuah acara yang positif.
Kamis, 24 Juli 2014
20 sifat Allah
Sifat Nafsiyyah, Salbiyyah,Ma`ani dan Ma`nawiyyah
Didalam mempelajari sifat dua puluh yang wajib bagi Allah, kita menghadapi beberapa istilah yang tertulisdi sebahagian kitab-kitab Tauhid, istilah-istilah ini adalah kategori sifat-sifat dua puluh yang telah jelaskan oleh para ulama, dari dua puluh sifat yang wajib memiliki empat kategori, ( 1 ) sifat Nafsiyyah, ( 2 ) sifat Salbiyyah ( 3 ) sifat Ma`ani ( 4 ) sifat Maknawiyyah.
Didalam mempelajari sifat dua puluh yang wajib bagi Allah, kita menghadapi beberapa istilah yang tertulisdi sebahagian kitab-kitab Tauhid, istilah-istilah ini adalah kategori sifat-sifat dua puluh yang telah jelaskan oleh para ulama, dari dua puluh sifat yang wajib memiliki empat kategori, ( 1 ) sifat Nafsiyyah, ( 2 ) sifat Salbiyyah ( 3 ) sifat Ma`ani ( 4 ) sifat Maknawiyyah.
I – Sifat Nafsiyyah adalah : Sifat yang menetetapkan adanya
Allah dan menunjukkan kepada ZatNya Allah tanpa ada sesuatu tambahan pada Zat.
Maksud sifat yang tetap adalah : Adanya sifat tersebut pada Zat
Allah yang menunjukkan Allah itu ada, bukan seperti sifat salbiyah, sebab sifat
salbiyyah tidak tetap pada Zat, tetapi hanya menolak sifat-sifat yang tidak
patut dan layak kepada ZatNya Allah s.w.t.
Dan maksud tanpa ada sesuatu tambahan pada Zat adalah : Sifat
Nafsiyyah ini bukanlah tambahan pada Zat, Sifat Nafsiyyah tidak seperti sifat
Ma`ani yang mana sifat Ma`ani tambahan dari ZatNya.
Adapun sifat Nafsiyyah adalah sifat WujudNya Allah s.w.t, dengan
maksud bahwa wujudnya Allah itu adalah tetap pada ZatNya Allah dan bukan
tambahan dari Zat Allah.
Maka wajib Allah bersifat Wujud,
mustahil bersifat Allah tidak ada
Allah berfirman :
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَمَاوَاتِ
وَٱلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِي
ٱلْلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ
مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلأَمْرُ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ
ٱلْعَالَمِينَ
Artinya : ”Sesungguhnya Tuhan kamu
ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia
beristawa di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya
dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang
(masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.( Al-A’râf:
54).
II – Sifat Salbiyyah
Sifat Salabiyyah adalah sifat yang
menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan patut bagi Allah s.w.t, sebab
Allah Maha sempurna dan tidak memiliki kekurangan.
Sifat Salbiyyah ada lima sifat :
1 – Qidam
Sifat Qidam menolak adanya
permulaan bagi Allah s.w.t , dengan kata lain adanya Allah s.w.t tidak
didahului oleh tidak ada, mustahil bagi Allah bermula dengan tidak ada.
Allah berfirman :
هُوَ ٱلأَوَّلُ وَٱلآخِرُ وَٱلظَّاهِرُ وَٱلْبَاطِنُ
وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya : “ Dialah Yang Awal dan
Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”
(Al Hadiid:3)
2 – Baqa`
Sifat Baqa` menolak adanya
kesudahan dan kebinasaan Wujud Allah s.w.t, mustahil bagi Allah bersifat Fana`
atau binasa.
Allah berfirman :
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ
وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya : ”Tiap-tiap sesuatu pasti
binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah
kamu dikembalikan.” (al-Qashash: 88).
3 – Mukhalafatu Lil Hawadith
Mukhalafatu Lil Hawadith ( Berbeda
dengan yang baharu ) adalah sifat yang menolak adanya persamaan Zat, Sifat dan
Perbuatan Allah dengan Zat, sifat dan perbuatan baharu, dengan makna lain Allah
tidak seperti makhluknya.
Allah berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya : ”Tidak ada sesuatupun
yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. As-Syura : 11).
4 – Qiyamuhu Bi Nafsih
Qiyamuhu Bi Nafsih ( Berdiri Allah
dengan sendiri-Nya ), sifat ini menolak adanya Allah berdiri dengan yang
lainnya, dengan makna lain, Allah tidak memerlukan bantuan dan pertolongan dari
yang lainnya, bahkan Allah berdiri sendiri, tidak memerlukan pencipta sebab Dia
Maha Pencipta, tidak memerlukan pembantu sebab Dia Maha Kuasa, tidak memerlukan
tempat sebab Dia yang menjadikanya, tidak memerlukan waktu dan masa sebab di
kekuasaan-Nyalah waktu dan masa.
إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya : ”Sesungguhnya Allah SWT
benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
(al-Ankabut : 6).
5 – Wahdaniyyah
Wahdaniyyah ( Esa ), maknanya
adalah Allah memiliki yang Maha Esa, Esa pada Zat, Esa padasifat dan Esa pada
perbuatan, sifat ini menolak adanya Kam yang lima :
a – Zat Allah tidak tersusun dari
beberapa unsur ataupun anggota badan.
b – Tidak ada satupun Zat yang sama seperti Zat-Nya Allah.
c – Sifat Allah tidak terdiri dari dua sifat yang sama, seperti adanya dua Qudrah.
d – Tidak ada satupun sifat di dunia ini yang sama seperti sifat Allah.
e – Tidak ada satupun di dunia ini yang sama seperti perbuatan Allah.
b – Tidak ada satupun Zat yang sama seperti Zat-Nya Allah.
c – Sifat Allah tidak terdiri dari dua sifat yang sama, seperti adanya dua Qudrah.
d – Tidak ada satupun sifat di dunia ini yang sama seperti sifat Allah.
e – Tidak ada satupun di dunia ini yang sama seperti perbuatan Allah.
Dengan kata lain Allah tidak
memiliki Zat Esa, tidak ada seorang makhluk pun yang sama Zatnya dengan Allah,
Allah memiliki Sifat yang Esa, tidak ada seorang pun yang bersifat dengan sifat
Allah, Allah memiliki perbuatan yang Esa, tidak ada di dunia ini yang sama
perbuatannya dengan Allah.
Allah berfirman :
لَوْ كَانَ فِيهِمَا ءَالِهَةٌ إِلاَّ اللهُ لَفَسَدَتَا
فَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Artinya : “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan
selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci
Allah yang mempunyai ’Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (al-Anbiya’:
22).
III – Sifat Ma`ani
Sifat Ma`ani adalah sifat yang
keberadaannya berdiri pada Zat Allah s.w.t yang wajib baginya hukum.
Sifat ini terdiri dari tujuh sifat.
1 – Qudrah
Qudrah ( Maha Kuasa ) adalah sifat
yang azali yang berada pasti pada Zat-Nya Allah s.w.t yang Kuasa menjadikan dan
menghancurkan setiap yang mungkin sesuai dengan Iradah-Nya.
Allah berfirman :
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِن شَيْءٍ فِي
السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي الأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ عَلِيماً قَدِيراً
Artinya : ”Dan tiada sesuatu pun
yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (al-Fatir: 44).
2 – Iradah
Iradah ( Maha Berkehendak ) adalah
sifat azali yang berada pada Zat-Nya Allah s.w.t menentukan sesuatu yang
mungkin dengan sebahagian yang boleh terhadapnya, seperti Allah menentuka bahwa
Zaid pintar dan Ziyad bodoh.
Allah berfirman :
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَآ أَرَدْنَاهُ أَن
نَّقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya : ” Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila
Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka
jadilah ia.” (an-Nahl: 40).
3 – Ilmu
Ilmu ( Maha Mengetahui ) adalah sifat Qadim yang berada pada
Zat-Nya Allah s.w.t Mengetahui seluruh sesuatu yang bersangkut paut dengan
sekalian yang wajib, mustahil, dan yang boleh tanpa didahului oleh sesuatu yang
menutupi pengetahun-Nya.
Allah berfirman :
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَآ إِلاَّ
هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ
يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ
إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Artinya : “Dan Allah memiliki kunci semua yang ghaib; tidak ada
yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di
lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan
tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu basah atau
kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al
An’aam:59]
4 – Hayat
Hayat ( Maha Hidup ) adalah sifat yang Qadim berdiri pada Zat
Allah s.w.t yang Maha Hidup, dengan adanya sifat Hayat menetapkan dan mengkuatkan
adanya sifat Qudrat, Iradat, Ilmu, Sama`, Bashar dan Kalam, hidupnya Allah yang
kekal dan abadi.
Allah berfirman :
اللَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ
تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن
ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ
الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Artinya : ”Allah, tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus
mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang
di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa
izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang
mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang
dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa
berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (al-Baqarah:
255).
5 – Sama`
Sama` ( Maha Mendengar ) adalah
sifat yang qadim berdiri pada Zat-Nya Allah s.w.t yang Maha Mendengar dari
seluruh yang ada baik suara ataupun selainnya.
Allah berfirman :
قَالَ لاَ تَخَافَآ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَى
Artinya : “Janganlah kamu berdua
khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku Maha mendengar dan Maha
melihat”. (Thaha: 46).
6 – Bashor
Bashor ( Maha Melihat ) adalah
sifat yang qadim yang berdiri pada zat Allah s.w.t Maha Melihat segala sesuatu
yang ada, baik yang jelas, yang tersembunyi, maupun yang samar-samar.
Allah berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (as-Syura: 11).
Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (as-Syura: 11).
7 – Kalam
Kalam ( Maha Berbicara ) adalah
sifat yang qadim yang berdiri pada Zat-Nya Allah yang Maha berbicara tanpa
menggunakan huruf dan suara, tanpa i`rab dan dan bina` dan Maha suci dari sifat-sifat
kalam yang baharu.
Allah berfirman :
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيماً
Artinya : ”…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (An-Nisâ: 164).
Artinya : ”…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (An-Nisâ: 164).
IV – Sifat Ma`nawiyyah
Sifat Ma`nawiyah
adalah sifat-sifat yang melazimi dari sifat Ma`ani, dengan kata lain sifat
Ma`nawiyah adalah sifat yang wujud disebabkan adanya sifat Ma`ani, seperti
Allah memiliki sifat kuasa, maka lazimlah Allah itu keadaannya Kuasa.
Sifat Ma`nawiyah terdiri dari tujuh
sifat :
1 – Kaunuhu Qaadiran
2 – Kaunuhu Muridan
3 – Kaunuhu `Aliman
4 – Kaunuhu Hayyan
5 – kaunuhu Sami`an
6 – Kaunuhu Bashiran
7- kaunuhu Mutakalliman.
2 – Kaunuhu Muridan
3 – Kaunuhu `Aliman
4 – Kaunuhu Hayyan
5 – kaunuhu Sami`an
6 – Kaunuhu Bashiran
7- kaunuhu Mutakalliman.
Rabu, 23 Juli 2014
13 Perkara yang harus di jaga oleh wanita:
1.
Bulu kening.
Menurut imam Bukhari,Rasullulah melaknat perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening.(Petikan dari Hadis Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari.)
2. Kaki dan semacam hantu loceng.
Dan janganlah mereka (perempuan)membentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan (Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31.) Keterangan : Menampakkan kaki dan menghayunkan/melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng…sama juga seperti pelacur di zaman jahiliyah.
3. Wangian-wangian.
Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya,maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berserombong.(Petikan dari Hadis Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban.)
4. Dada..
Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bahagian hadapan dada-dada mereka.(Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31.
5. Gigi..
Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya (Petikan dari Hadis Riwayat At-Thabrani) Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik,yang merubah ciptaan ALLAH.(Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.)
6. Muka dan leher.
Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu.
Keterangan : Bersolek (make-up) dan menurut Maqatil sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.
7. Pakaian yang nipis (jarang)
Asma Binte Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja (Petikan dari Hadis Riwayat Muslim dan Bukhari.)
8. Tangan.
Sesungguhnya kepala yang di tusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya.(Petikan dari Hadis Riwayat At Tabrani dan Baihaqi.)
9. Mata..
Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya. (Petikan dari Surah An Nur Ayat 31)Sabda Nabi Muhamad SAW,Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya.Kamu hanya boleh pandangan yang pertama sahaja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram.(Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad,Abu Daud dan Tirmidzi.)
10. Mulut (suara).
Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga
berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya,tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik (Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 32.)Sabda SAW, Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain,iaitu.kepala mereka di lalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka ALLAH akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi.(Petikan dari Hadis Riwayat Ibn Majah.)
11. Kemaluan..
Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin,hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka.(Petikan dari Surah An Nur Ayat 31.)Apabila seorang perempuan itu solatlima
waktu,puasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya,maka
masuklah ia ke dalam Syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya. (Hadis
RiwayatRiwayat Al Bazzar.)Tiada seorang perempuanpun yang membuka pakaiannya
bukan di rumah suaminya,melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan
ALLAH.(Petikan dari Hadis Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah.)
12. Pakaian..
Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menjolok mata,maka ALLAH akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti.(Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad,Abu D,An Nasaii dan Ibn Majah.)Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 59..Bermaksud : Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu,anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin,hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali,Lantaran itu mereka tidak diganggu.
ALLAH maha pengampun lagi maha penyayang.Sesungguhnya sebilangan ahli Neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat,mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium baunya. (Petikan dari Hadis Riwayat.Bukhari dan Muslim)
Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ membentuk dan berbelah/membuka.bahagian-bahagian tertentu.
13. Rambut..
Wahai anakku Fatimah! Adapun.perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu.menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya.(Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.) Riwayat Imran bin Hushain ra.:Bahwa Rasulullah saw. bersabda:Sesungguhnya penghuni syurga yang paling sedikit adalah kaum wanita. (Shahih Muslim No.4921)
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci.
Sampaikanlah kepada orang lain,maka ini akan menjadi Shadaqah Jariyah pada setiap orang yang Anda kirimkan pesan ini.
Menurut imam Bukhari,Rasullulah melaknat perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening.(Petikan dari Hadis Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari.)
2. Kaki dan semacam hantu loceng.
Dan janganlah mereka (perempuan)membentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan (Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31.) Keterangan : Menampakkan kaki dan menghayunkan/melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng…sama juga seperti pelacur di zaman jahiliyah.
3. Wangian-wangian.
Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya,maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berserombong.(Petikan dari Hadis Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban.)
4. Dada..
Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bahagian hadapan dada-dada mereka.(Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31.
5. Gigi..
Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya (Petikan dari Hadis Riwayat At-Thabrani) Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik,yang merubah ciptaan ALLAH.(Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.)
6. Muka dan leher.
Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu.
Keterangan : Bersolek (make-up) dan menurut Maqatil sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.
7. Pakaian yang nipis (jarang)
Asma Binte Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja (Petikan dari Hadis Riwayat Muslim dan Bukhari.)
8. Tangan.
Sesungguhnya kepala yang di tusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya.(Petikan dari Hadis Riwayat At Tabrani dan Baihaqi.)
9. Mata..
Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya. (Petikan dari Surah An Nur Ayat 31)Sabda Nabi Muhamad SAW,Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya.Kamu hanya boleh pandangan yang pertama sahaja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram.(Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad,Abu Daud dan Tirmidzi.)
10. Mulut (suara).
Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga
berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya,tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik (Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 32.)Sabda SAW, Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain,iaitu.kepala mereka di lalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka ALLAH akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi.(Petikan dari Hadis Riwayat Ibn Majah.)
11. Kemaluan..
Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin,hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka.(Petikan dari Surah An Nur Ayat 31.)Apabila seorang perempuan itu solat
12. Pakaian..
Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menjolok mata,maka ALLAH akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti.(Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad,Abu D,An Nasaii dan Ibn Majah.)Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 59..Bermaksud : Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu,anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin,hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali,Lantaran itu mereka tidak diganggu.
ALLAH maha pengampun lagi maha penyayang.Sesungguhnya sebilangan ahli Neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat,mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium baunya. (Petikan dari Hadis Riwayat.Bukhari dan Muslim)
Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ membentuk dan berbelah/membuka.bahagian-bahagian tertentu.
13. Rambut..
Wahai anakku Fatimah! Adapun.perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu.menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya.(Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.) Riwayat Imran bin Hushain ra.:Bahwa Rasulullah saw. bersabda:Sesungguhnya penghuni syurga yang paling sedikit adalah kaum wanita. (Shahih Muslim No.4921)
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci.
Sampaikanlah kepada orang lain,maka ini akan menjadi Shadaqah Jariyah pada setiap orang yang Anda kirimkan pesan ini.
Nadham Kitab Aqidatul Awam dan Terjemah
Terjemah Aqidatul Awam Syair Syekh
Ahmad Marzuki al-Maliki
أَبْـدَأُ
بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ * وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ اْلإِحْـسَانِ
Saya mulai dengan
asmanya Allah;
yang Pengasih Sayang artinya bismillah.
yang Pengasih Sayang artinya bismillah.
فَالْحَـمْـدُ
ِللهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ * اَلآخِـرِ الْبَـاقـِيْ بِلاَ تَحَـوُّلِ
Maka segala puji
miliknya Allah;
Yang Dulu, Awal, Akhir, Kekal tak b'rubah
Yang Dulu, Awal, Akhir, Kekal tak b'rubah
ثُمَّ
الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَـرْمَدَا * عَلَى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ
وَحَّدَا
Salawat dan salam kekal
selamanya;
Atas Nabi, orang terbaik tauhidnya
Atas Nabi, orang terbaik tauhidnya
وَآلِهِ
وَصَـحْبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ * سَـبِيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ
Keluarga dan sahabat
dan yang ikut;
Jalan agamanya yang haq dan yang patut
Jalan agamanya yang haq dan yang patut
وَبَعْدُ
فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَـهْ * مِنْ وَاجِـبٍ ِللهِ عِشْـرِيْنَ صِفَهْ
Kemudian ketahui dengan wajib;
Sifat duapuluhnya Allah yang wajib
Sifat duapuluhnya Allah yang wajib
فَاللهُ
مَوْجُـوْدٌ قَـدِيْمٌ بَاقِـي * مُخَالـِفٌ لِلْـخَـلْقِ
بِاْلإِطْلاَقِ
Allah wujud, qidam
dulu, baqa' kekal;
Tak serupa dengan makhluk yang tak kekal.
Tak serupa dengan makhluk yang tak kekal.
وَقَـائِمٌ
غَـنِيْ وَوَاحِـدٌ وَحَيّ * قَـادِرْ مُـرِيْـدٌ عَـالِمٌ بِكُلِّ شَيْ
Dan dzat yang Maha
Berdiri pada Dzatnya;
Yang Esa dan Berkehendak dan Kuasa.
Maha Melihat segala sesuatu;
Maha Hidup tanpa dibatasi waktu.
Yang Esa dan Berkehendak dan Kuasa.
Maha Melihat segala sesuatu;
Maha Hidup tanpa dibatasi waktu.
سَـمِـيْعٌ
اْلبَصِـيْرُ وَالْمُتَكَلِّـمُ * لَهُ صِـفَاتٌ سَـبْعَـةٌ تَـنْـتَظِمُ
Maha Mendengar,
Melihat, dan Berfirman;
Bagi-Nya tujuh sifat yang terpaparkan
Bagi-Nya tujuh sifat yang terpaparkan
فَقُـدْرَةٌ
إِرَادَةٌ سـَمْـعٌ بـَصَرْ * حَـيَـاةٌ الْعِلْـمُ كَلاَمٌ اسْـتَمَرْ
Qudrat Kuasa, Irodah Berkehendak;
Bashar M'lihat, dan Mendengar atau Sama'
Hayat Hidup, Ilmu Allah tak terhingga;
Kalam Allah Berfirmannya telah nyata
Bashar M'lihat, dan Mendengar atau Sama'
Hayat Hidup, Ilmu Allah tak terhingga;
Kalam Allah Berfirmannya telah nyata
وَجَائـِزٌ
بِـفَـضْـلِهِ وَ عَدْلِهِ * تَـرْكٌ لـِكُلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ
Berkat keagungan Allah
dan adil-Nya;
Jaiz kerjakan atau meninggalkannya.
Jaiz kerjakan atau meninggalkannya.
أَرْسَـلَ
أَنْبِيَا ذَوِي فَـطَـانَـهْ * بِالصِّـدْقِ وَالتَـبْلِـيْغِ وَاْلأَمَانَهْ
Allah utus para nabi
dengan cerdas;
Jujur, tabligh, amanah mereka jelas.
Jujur, tabligh, amanah mereka jelas.
وَجَـائِزٌ
فِي حَـقِّهِمْ مِنْ عَرَضِ * بِغَيْـرِ نَقْصٍ كَخَـفِيْفِ الْمَرَضِ
Jaiz Rasul punya sifat
manusia;
Seperti sakit yang tidak seberapa.
Seperti sakit yang tidak seberapa.
عِصْـمَـتُهُمْ
كَسَائِرِ الْمَلاَئِكَهْ * وَاجِـبَـةٌ وَفَاضَلُوا الْمَـلاَئِكَهْ
Rasul dijaga seperti
malaikat;
Bahkan melebihi para malaikat.
Bahkan melebihi para malaikat.
وَالْمُسْـتَحِيْلُ
ضِدُّ كُلِّ وَاجِبِ * فَاحْفَظْ لِخَمْسِـيْنَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ
Sifat mustahil lawan sifat yang wajib;
Hapalkanlahlima
puluh s'cara wajib.
Hapalkanlah
تَفْصِيْلُ
خَمْسَةٍ وَعِشْـرِيْنَ لَزِمْ * كُـلَّ مُـكَلَّـفٍ فَحَقِّقْ وَاغْـتَنِمْ
Wajib tahu nama Rasul
dua lima;
Yakini dan ambillah keuntungannya.
Yakini dan ambillah keuntungannya.
هُمْ
آدَمٌ اِدْرِيْسُ نُوْحٌ هُـوْدُ مَعْ * صَالِـحْ وَإِبْرَاهِـيْـمُ كُلٌّ
مُـتَّبَعْ
Nabi Adam, Idris, Nuh,
Soleh serta Hud;
Selanjutnya Nabi Ibrahim berikut.
Selanjutnya Nabi Ibrahim berikut.
لُوْطٌ
وَاِسْـمَاعِيْلُ اِسْحَاقُ كَذَا * يَعْقُوبُ يُوسُـفُ وَأَيُّوْبُ احْتَذَى
Nabi Luth, Ismail, Ishaq serta Ya'qub;
Nabi Yusuf selanjutnya Nabi Ayyub.
Nabi Yusuf selanjutnya Nabi Ayyub.
شُعَيْبُ
هَارُوْنُ وَمُوْسَى وَالْيَسَعْ * ذُو الْكِـفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمَانُ
اتَّـبَعْ
Nabi Syuaib, Harun, Musa, dan Alyasa';
Dzulkifli, Dawud, dan Sulaiman yang bijak.
Dzulkifli, Dawud, dan Sulaiman yang bijak.
إلْيَـاسُ
يُوْنُسْ زَكَرِيـَّا يَحْيَى * عِيْسَـى وَطَـهَ خَاتِمٌ دَعْ غَـيَّا
Ilyas, Yunus, Zakariya, serta Yahya;
Isa, dan Muhammad penutup semua.
Isa, dan Muhammad penutup semua.
عَلَـيْهِمُ
الصَّـلاَةُ وَالسَّـلاَمُ * وَآلِـهِمْ مـَا دَامَـتِ اْلأَيـَّـامُ
Bagi mereka salam dan
sejahtera;
Dan k'luarganya untuk sepanjang masa.
Dan k'luarganya untuk sepanjang masa.
وَالْمَـلَكُ
الَّـذِيْ بِلاَ أَبٍ وَأُمْ * لاَ أَكْلَ لاَ شُـرْبَ وَلاَ نَوْمَ لَـهُمْ
Malaikat tanpa bapak
tanpa ibu;
Tidak makan, minum, tidur sepertiku.
Tidak makan, minum, tidur sepertiku.
تَفْـصِـيْلُ
عَشْرٍ مِنْهُمُ جِبْرِيْلُ * مِـيْـكَـالُ اِسْـرَافِيْلُ عِزْرَائِيْلُ
Jumlahnya sepuluh dimulai Jibril;
Lalu Mikail, Israfil, dan Izrail.
Lalu Mikail, Israfil, dan Izrail.
مُنْـكَرْ
نَكِـيْرٌ وَرَقِيْبٌ وَكَذَا * عَتِـيْدٌ مَالِكٌ ورِضْوَانُ احْتَـذَى
Munkar, Nakir, dan
Raqib disusul pula;
Atid, Malik, serta Ridwan berikutnya.
Atid, Malik, serta Ridwan berikutnya.
أَرْبَـعَـةٌ
مِنْ كُتُبٍ تَـفْصِيْلُهَا * تَوْارَةُ مُوْسَى بِالْهُدَى تَـنْـزِيْلُهَا
Empat kitab ini dia
rinciannya;
Taurat Musa yang berisi petunjuk-Nya.
Taurat Musa yang berisi petunjuk-Nya.
زَبُـوْرُ
دَاوُدَ وَاِنْجِـيْـلُ عَلَى * عِيْـسَى وَفُـرْقَانُ عَلَى خَيْرِ
الْمَلاَ
Zabur Dawud, lalu Injil bagi Isa;
Kitab Quran ‘tuk sebaik manusia.
Kitab Quran ‘tuk sebaik manusia.
وَصُحُـفُ
الْخَـلِيْلِ وَالْكَلِيْمِ * فِيْهَـا كَلاَمُ الْـحَـكَمِ الْعَلِـيْمِ
Ada shuhuf Nabi Ibrahim
dan Musa;
Merupakan firman Allah bijaksana.
Merupakan firman Allah bijaksana.
وَكُـلُّ
مَا أَتَى بِهِ الـرَّسُـوْلُ * فَحَـقُّـهُ التَّسْـلِـيْمُ وَالْقَبُوْلُ
Dan semua yang dibawa
oleh Rasul;
Harus diyakini benar dan diqabul.
Harus diyakini benar dan diqabul.
إِيْـمَـانُنَا
بِـيَوْمِ آخِرٍ وَجَبْ * وَكُلِّ مَـا كَانَ بِـهِ مِنَ الْعَجَبْ
Kita harus iman pada
hari akhir;
Mentakjubkan sesuatu jangan mungkir.
Mentakjubkan sesuatu jangan mungkir.
خَاتِمَةٌ
فِي ذِكْرِ بَاقِي الْوَاجِبِ * مِمَّـا عَـلَى مُكَلَّفٍ مِنْ وَاجِبِ
Akhir penuturan lainnya yang wajib;
Bagi orang mukallaf termasuk wajib.
Bagi orang mukallaf termasuk wajib.
نَبِـيُّـنَا
مُحَمَّدٌ قَدْ أُرْسِــلاَ * لِلْـعَالَمِـيْـنَ رَحْـمَةً وَفُضِّلاَ
Nabi Muhammad t'lah diutus ke dunya;
Pembawa rahmat alam dan seisinya.
Pembawa rahmat alam dan seisinya.
أَبـُوْهُ
عَبْدُ اللهِ عَبْدُ الْمُطَّلِـبْ * وَهَاشِـمٌ عَبْدُ مَنَافٍ يَنْتَسِـبْ
Abdullah bin Abdul Muthallib ayahnya;
Bani Hasyim, Abdu Manaf silsilahnya.
Bani Hasyim, Abdu Manaf silsilahnya.
وَأُمُّـهُ
آمِـنَةُ الـزُّهْــرِيـَّهْ * أَرْضَـعَتْهُ حَلِيْمَـةُ السَّـعْدِيـَّهْ
Aminah Zuhriyah adalah ibunya;
Halimah Sakdiyah itu penyusunya.
Halimah Sakdiyah itu penyusunya.
مَوْلـِدُهُ
بِمَـكَّـةَ اْلأَمِيْــنَهْ * وَفَاتُـهُ بِـطَـيْـبَةَ الْـمَدِيْنَهْ
Dilahirkan di kota
Makkah sentosa;
Di Madinah adalah tempat wafatnya.
Di Madinah adalah tempat wafatnya.
أَتَـمَّ
قَـبْـلَ الْـوَحْيِ أَرْبَعِيْنَا * وَعُـمْـرُهُ قَدْ جَاوَزَ السِّـتِّيْنَا
T'rima wahyu umur empat puluh tahun;
Umur Nabi lebih enam puluh tahun.
Umur Nabi lebih enam puluh tahun.
وَسَـبْـعَةٌ
أَوْلاَدُهُ فَمِـنْـهُمُ * ثَلاثَـةٌ مِـنَ الذُّكـُوْرِ تُـفْهَمُ
Putra Nabi semuanya ada
tujuh;
Tiga lelaki harus dipaham penuh.
Tiga lelaki harus dipaham penuh.
قَاسِـمْ
وَعَبْدُ اللهِ وَهْوَ الطَّيِّبُ * وَطَاهِـرٌ بِذَيْـنِ ذَا يُـلَـقَّبُ
Pertama Qasim, dan kedua Abdullah;
Thayib dan Thahir panggilan ‘tuk Abdullah.
Thayib dan Thahir panggilan ‘tuk Abdullah.
أَتَاهُ
إبْرَاهِـيْـمُ مِنْ سُـرِّيـَّهْ * فَأُمُّـهُ مَارِيَّةُ الْـقِـبْـطِـيَّـهْ
Ketiga Ibrahim dari
istri Amah;
ibunya bernama Maria Qibtiyah.
ibunya bernama Maria Qibtiyah.
وَغَيْـرُ
إِبْرَاهِيْمَ مِنْ خَـدِيْجَهْ * هُمْ سِتَـةٌ فَخُـذْ بِهِمْ وَلِـيْجَهْ
Ibu s'lain Ibrahim itu Khadijah;
Jumlah enam jadikan karib yang indah.
Jumlah enam jadikan karib yang indah.
وَأَرْبَعٌ
مِـنَ اْلإِنَاثِ تُـذْكَـرُ * رِضْـوَانُ رَبِّي لِلْجَمِـيْعِ يُذْكَرُ
Putri Nabi semuanya ada
empat;
Kerelaan Tuhan tetaplah didapat.
Kerelaan Tuhan tetaplah didapat.
فَاطِـمَـةُ
الزَّهْرَاءُ بَعْلُهَا عَلِيْ * وَابْنَاهُمَا السِّـبْطَانِ فَضْلُهُمُ جَلِيْ
Pertama Fatimah
isterinya Ali;
Dengan Hasan Husein kebagusan pasti.
Dengan Hasan Husein kebagusan pasti.
فَزَيْـنَبٌ
وَبَعْـدَهَـا رُقَـيَّهْ * وَأُمُّ كُـلْـثُـومٍ زَكَـتْ رَضِيَّهْ
Kedua Zainab, Ruqayyah ketiga;
Keempat Ummu Kultsum suci diridla.
Keempat Ummu Kultsum suci diridla.
عَنْ
تِسْعِ نِسْوَةٍ وَفَاةُ الْمُصْطَفَى * خُيِّـرْنَ فَاخْتَرْنَ النَّـبِيَّ
الْمُقْتَفَى
Nabi wafat para isteri
memilih;
Menganut Nabi Muhammad yang terpilih.
Menganut Nabi Muhammad yang terpilih.
عَائِشَـةٌ
وَحَفْصَـةٌ وَسَـوْدَةُ * صَـفِيَّـةٌ مَـيْـمُـوْنَةٌ وَ رَمْلَةُ
Mereka Aisyah, Khafsah,
dan Saudah;
Lalu Sofiyah, Maimunah, dan Romlah.
Lalu Sofiyah, Maimunah, dan Romlah.
هِنْدٌ
وَ زَيْـنَبٌ كَذَا جُوَيـْرِيَهْ * لِلْمُـؤْمِـنِيْنَ أُمَّـهَاتٌ مَرْضِـيَّهْ
Hindun dan Zainab serta Juwairiya;
Bagi mukmin m'reka ibu yang diridla.
Bagi mukmin m'reka ibu yang diridla.
حَمْـزَةُ
عَمُّـهُ وعَـبَّاسٌ كَذَا * عَمَّـتُـهُ صَـفِيَّـةٌ ذَاتُ احْتِذَا
Hamzah dan Abbas adalah
paman Nabi;
Sofiyah bibi Nabi yang mengikuti.
Sofiyah bibi Nabi yang mengikuti.
وَقَبْـلَ
هِجْـرَةِ النَّـبِيِّ اْلإِسْرَا * مِـنْ مَـكَّةَ لَيْلاً لِقُدْسٍ يُدْرَى
Seb'lum hijrah Nabi
isra' dari Makkah;
Malam hari ke Bayt Maqdis yang diberkah.
Malam hari ke Bayt Maqdis yang diberkah.
وَبَعْدَ
إِسْـرَاءٍ عُرُوْجٌ لِلسَّـمَا * حَتَّى رَأَى النَّـبِيُّ رَبًّـا كَـلَّمَا
Nabi naik ke langit
setelah isra';
M'lihat Tuhan berfirman secara nyata.
M'lihat Tuhan berfirman secara nyata.
مِنْ
غَيْرِكَيْفٍ وَانْحِصَارٍ وَافْـتَرَضْ * عَلَيْهِ خَمْسًا بَعْدَ خَمْسِيْنَ
فَرَضْ
Tanpa bagaimana Nabi
dapat p'rintah;
Salat lima waktu tak perlu dibantah.
Salat lima waktu tak perlu dibantah.
وَبَـلَّـغَ
اْلأُمَّـةَ بِاْلإِسْــرَاءِ * وَفَـرْضِ خَـمْـسَةٍ بِلاَ امْتِرَاءِ
Nabi c'rita tentang
isra' agar tahu;
P'rintah salat lima waktu tanpa ragu.
P'rintah salat lima waktu tanpa ragu.
قَدْ
فَازَ صِـدِّيْقٌ بِتَصْـدِيْقٍ لَهُ * وَبِالْعُرُوْجِ الصِّـدْقُ وَافَى
أَهْلَهُ
Abu Bakar b'runtung
membenarkan Nabi;
Kebenaran mi'raj s'suai para ahli.
Kebenaran mi'raj s'suai para ahli.
وَهَـذِهِ
عَقِيْـدَةٌ مُخْـتَصَرَهْ * وَلِلْـعَـوَامِ سَـهْـلَةٌ مُيَسَّرَهْ
Penjelasan ini akidah
yang ringkas;
Bagi awam gampang, mudah, serta jelas.
Bagi awam gampang, mudah, serta jelas.
نَاظِمُ
تِلْكَ أَحْـمَدُ الْمَرْزُوْقِيْ * مَنْ يَنْتَمِي لِلصَّـادِقِ الْمَصْدُوْقِ
Pengarangnya adalah
Ahmad Marzuki;
Termasuk orang yang benar dan yang pasti.
Termasuk orang yang benar dan yang pasti.
وَ
الْحَمْدُ ِللهِ وَصَـلَّى سَـلَّمَا * عَلَـى النَّبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ
عَلَّـمَا
Puji bagi Allah yang
memberi rahmat;
Pada Nabi yang mengajar orang s'lamat.
Pada Nabi yang mengajar orang s'lamat.
وَاْلآلِ
وَالصَّـحْبِ وَكُلِّ مُرْشِدِ * وَكُلِّ مَـنْ بِخَيْرِ هَدْيٍ يَقْتَدِيْ
Keluarga, sahabat, dan
orang baik;
Serta pengikut petunjuknya yang laik.
Serta pengikut petunjuknya yang laik.
وَأَسْـأَلُ
الْكَرِيْمَ إِخْلاَصَ الْعَمَلْ * ونَفْعَ كُلِّ مَنْ بِهَا قَدِ اشْـتَغَلْ
Kumohon Allah 'kan
keikhlasan ini;
Dan manfaat bagi orang yang atensi.
Dan manfaat bagi orang yang atensi.
أَبْيَاتُهَا
( مَيْـزٌ ) بِـعَدِّ الْجُمَلِ * تَارِيْخُهَا ( لِيْ حَيُّ غُرٍّ ) جُمَلِ
Dua belas
سَـمَّيْـتُهَا
عَـقِـيْدَةَ الْعَوَامِ * مِـنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَّمَامِ
Kunamakan ini Aqidatul Awam;
Sempurna agama s'bagai kewajiban.
Sempurna agama s'bagai kewajiban.
Langganan:
Postingan (Atom)






















